Al Umuru Bimaqosidiha

Kamis, 13 September 2012


I.              PEMBAHASAN
A.                            Lima Kaidah Pokok (Al-Qawa’id Al-Khams)
Kelima kaidah Asasiyyah semula dinamakan kaidah ushul, yakni kaidah yakni kaidah pokok dari segala kaidah fiqhiyyah yang ada.  Kaidah-kaidah yang dibentuk para ulam pada dasarnya berpangkal dan menginduk kepada lima kaidah pokok. Kelima kaiadah pokok inilah yang melahirkan bermacam-macam kaidah yang bersifat cabang. Sebagian ulama menyebut kelima kaidah pokok tersebut dengan istilah Qawaid Al-Khams. Kaidah-kaidah pokok tersebut yaitu :[1]
1.      Al umuru Bimaqasidina (Segala sesuatu tergantung pada maksudnya)
2.      Al Yaqin la Yazuulu bi Syakk (Keyakinan tidak dapat digugurkan dengan keraguan)
3.      Al Masyaaqqoh tajlibu al-Taisiir (Kesukaran itu menarik adanya kemudahan)
4.      Al-Doror Yuzaalu (kemadharatan itu harus dihilangkan)
5.      Al-‘Adah Muhakkamah (adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum)
Ibnu Nujaim (w.1970) menambahkan satu kaidah sehingga menjadi enam dan menyebutnya dengan istilah Al-Qawa’id Al-Asasiyyah (kaidah-kaidah pokok). Kaidah keenam yang ditambahkan Ibnu Nujaim adalah la tsawaba illa binniyat (tidak ada pahala kecuali dengan niat).
Imam Muhammad Izzuddin bin Abdi Al-Salam berpendapat bahwa fikih itu hanya berkisar dan berpusat pada satu kaidah saja yaitu kaidah jalbu al-mashoolih wa dar’u al-mafaasid (menarik kebaikan dan menolak kerusakan). Bahkan menurut Tajuddin Al-Subki, kaidah di atas merupakan kaidah yang sangat umum,  jikalau dikehendaki kaidah-kaidah inidapatdikembalikan kepada 40 atau 200 kaidah.[2]

B.                            Pengertian Kaidah Al-umur bi Maqasidiha ( Tiap perkara tergantung pada maksudnya )
Pengertian kaidah ini bahwa hukum yang berimplikasi terhadap suatu perkara yang timbul dari perbuatan atau perkataan subjek hukum (mukallaf) tergantung pada maksud dan tujuan dari perkara tersebut. Para ulama telah berusaha menginterpretasi kan dan menjelaskan maksud kaidah ini, di samping membuat kaidah –kaidah yang menjadi cabang darinya. Mereka melakukan semua ini , karena melihat bahwa kaidah ini sangat penting dan mempunyai urgensi yang besar dalam perkembangan hukum Islam. Kaidah ini menjelaskan kedudukan niat yang sangat penting dalam setiap perbuatan. Kaidah ini  menjelaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan akan mempunyai hukum dan hasil (natijah) yang berbeda. Tergantung kepada niat atau maksudnya. Sebagai tambahan penjelasan perlu kami tegaskan, bahwa apabila tindakan seseorang meningggalkan hal-hal yang terlarang dilakukannya dengan segala ketundukan karena ada larangan yang berlaku dalam ketetapan syara’  maka tindakan tersebut memperoleh pahala. Namun, jika apabila tindakan tersebut berkaitan dengan tabiat terhadap sesuatu yang ditinggalkannya tersebut tanpa memperhatikan status pelarangannya maka ia dinilai sebagai perkara biasa dan tabiat manusiawi yang tidak memperoleh pahala.
Sebagai contoh, memakan bangkai tanpa adanya rukhsoh (dispensasi hukum)  status hukumnya adalah haram. Dalam hal ini, terdapat nash syara’ yang dengan tegas mengharamkan konsumsi bangkai dan melarang tindakan tersebut. Sehingga apabila melanggar akan memperoleh hukuman dunia dan akhirat. Apabila seseorang mencegah diri untuk tidak melakukan tindakan tersebut (konsumsi bangkai) dengan harapan bahwa ia berpegang teguh pada nash dan menerapkan ketentuan  yang berlaku di dalamnya maka tindakan ini memperoleh ganjaran dari Allah SWT dan berlaku mendapatkan pahala kebaikan yang ditambahkan pada daftar pahala kebaikannya di sisi-Nya. Berbeda halnya apabila sesorang tidak memakan bangkai karena faktor psikologis di dalam dirinya yang merasa jijik atau tidak suka terhadap bangkai, tanpa memandang nash yang mengharamkannya –atau dengan bahasa lain seseorang pasti akan memakannya seandainya tidak merasa jijik- maka tindakan tersebut tidak berpahala sama sekali.
Makna yang tersirat (mafhum) dari kaidah ini bahwa niat dalam hati yang bersifat abstrak yang tidak disertai dengan suatu tindakan lahiriah yang menjelaskannya, baik berupa perkataan atau perbuatan tidak berimplikasi pada suatu hukum syar’i duniawi. Sebab menurut makna yang tersurat (manthuq) kaidah tersebut mengikat hukum hanya dengan perkara- perkara lahiriah, baik perkataan maupun perbuatan. [3]

C.                           Dasar Hukum Kaidah al-Umûr Bimaqâşidihâ

           Kaidah ini dilegimitasi oleh firman Allah dalam Quran, di antaranya:
           Quran surat al-Bayyinah ayat 5:
!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ  
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus".

QS. al-Aḣzâb ayat 5:
öNèdqãã÷Š$# öNÎgͬ!$t/Ky uqèd äÝ|¡ø%r& yZÏã «!$# 4 bÎ*sù öN©9 (#þqßJn=÷ès? öNèduä!$t/#uä öNà6çRºuq÷zÎ*sù Îû ÈûïÏe$!$# öNä3Ï9ºuqtBur 4 }§øŠs9ur öNà6øn=tæ Óy$uZã_ !$yJÏù Oè?ù'sÜ÷zr& ¾ÏmÎ/ `Å3»s9ur $¨B ôNy£Jyès? öNä3ç/qè=è% 4 tb%Ÿ2ur ª!$# #Yqàÿxî $¸JŠÏm§ ÇÎÈ 
"Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS. al-Baqarah ayat 225:
žw ãNä.äÏ{#xsムª!$# Èqøó¯=9$$Î/ þÎû öNä3ÏY»yJ÷ƒr& `Å3»s9ur Nä.äÏ{#xsム$oÿÏ3 ôMt6|¡x. öNä3ç/qè=è% 3 ª!$#ur îqàÿxî ×LìÎ=ym ÇËËÎÈ  
"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun

QS. Ali 'Imrân ayat 145:
$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xsB 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 ÌôfuZyur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Adapun dalam hadits Nabi, antara lain:
انماالأعمال بالنيات وانمالكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسولهومن كانت هجرته للدنيايصيبهاال امرأة ينكحها فهجرته الى ما هجر اليه

"Setiap perbuatan itu bergantung kepada niat-niatnya dan bagi setiap orang sesuai dengan niatnya. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa hijrahnya karena mengharapkan kepentingan dunia, maka ia akan mendapatkannya danbarangsiapa berhijrah karena wanita, maka ia akan menikahinya, maka hijrahnya kepada yang diniatkannya
. (HR. Bukhari Muslim dari 'Umar Ibn al-Ήaṭṭâb).

انك لو تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله الا أجرت عليهاحتى ماتجعل فى فم امرأتك

"Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan sesuatu dengan maksud mencari keridhaan Allah kecuali diberi pahala walaupun sekedar sesuap ke dalam mulut istrimu" (HR.
Bukhari)
من قتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو فى سبيل الله عزوجل

"Barangsiapa berperang dengan maksud meninggikan kalimah Allah, maka dia ada di jalan Allah" (HR. Bukhari dari Abu Musa)

من أتى فراشه وهو ينوي أن يقوم يصلي من الليل فغلبته عيناه حتى أصبح كتب له
 مانوى

"Barangsiapa yang tidur dan ia berniat akan shalat malam, kemudian dia ketiduran sampai subuh, maka ditulis baginya pahala sesuai dengan niatnya" (HR. al-Nasâi dari Abu Zâr).

نية المؤمن خيـرمن عمله

"Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya" (HR. Tabrani dari Sahal bin Sa'id al-Sa'îdî).

Menurut ulama’ ahli tahqiq, hadits ini isinya padat sekali, sehingga seolah-olah sepertiga atau seperempat dari dari masalah fiqih telah tercakup dalam hadits ini. sebab perbuatan atau amal manusia itu ada tiga macam, yaitu:
1.      Dengan hati
2.      Dengan ucapan
3.      Dengan tindakan
Dan semua amal yang berhubungan dengan hati tercakup oleh hadts ini. Justru menurut Imam Syafi’i ada 70 bab yang tercakup dalam hadits ini, seperti wudlu, mandi, qashar, jama’, makmum, imam, sujud tilawah, shadaqah tathawwu’,  puasa, i’tikaf, nadzar, wakaf dan sebagainya.[4]

D.                          Eksistensi Niat
1.      Pengertian Niat
Kata niat (النيّة) dengan tasydid pada huruf ya adalah bentuk mashdar dari kata kerja nawaa-yanwii. Inilah yang masyhur di kalangan ahli bahasa. Ada pula yang membaca niat dengan ringan, tanpa tasydid menjadi (niyah). Dapat diambil benang merah bahwa makna niat tidak keluar dari makna literar linguistiknya, yaitu maksud atau kesengajaan.
Sementara Ibnu Abidin menyatakan niat secara bahasa berarti, kemantapan hati terhadap sesuatu, sedangkan menurut istilah berarti mengorientasikan ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah dalam mewujudkan tindakan.[5]

2.      Perbedaan pendapat ulama mengenai niat sebagai rukun atau syarat
a)      Segolongan ulama berpendapat bahwa niat itu termasuk rukun, sebab niat shalat misalnya termasuk ke dalam dzat shalat itu.
b)      Ulama yang lain mengatakan, bahwa niat termasuk syarat, sebab kalau niat termasuk rukun, maka niat pula diniati.
c)      Menurut Imam Ghazaly, “diperinci, nia dalam ibadah puasa termasuk rukun, sedangkan niat dalam ibadah shalat termasuk syarat.
d)     Imam Nawawiy dan Rafi’iy berpendapat sebaliknya dari Imam Ghazaly, yakni di dalam ibadah puasa niat termasuk syarat, sedangkan di dalam ibadah shalat niat termasuk rukun.

3.       Tempat dan waktu Niat
Tempat niat adalah hati, karena hati adalah tempat akal, keinginan, tendensi, dan keyakinan. Hal ini merupakan pendapat para ulama’ jumhur. Ada juga yang menyatakan bahwasannya niat terletak pada otak bukan hati. Pendapat ini bersumber dari sebagian ahli hukum islam.
Niat itu tidak pada ucapan, melainkan dalam hati. Kendatipun demikian, dikarenakan gerakan hati itu sulit diketahui, maka para Alim menganjurkan di samping  niat dalam hati, sebaiknya dikukuhkan pula dengan ucapan lisan, sekedar menolong gerakan hati. Sebaliknya apabila niat hanya diucapkan di mulut saja sedangkan hati tidak bergerak maka niat itu tidak sah. Sehingga seumpama seseorang terlanjur bersumpah padahal dalam hatinya ia tidak berniat bersumpah maka tidak ada kewajiban padanya membayar kafarat dan tidak berdosa. Jadi apabila ada perbedaan antara hati dan ucapan maka yang lebih diperhitungkan adalah bunyi hati yakni seperti niat dalam shalat. Sedangkan jika niat tersebut berhubungan dengan kepentingan manusia seperti talak, wasiat dan muamalah maka yang lebih diperhitungkan adalah ucapan.
Berkenaan dengan waktu dalam berniat terdapat beberapa ketentuan mengenai waktu niat yaitu :
a)      Niat itu harus bersamaan dengan permulaan ibadah, seperti ; wudlu, niatnya dilakukan pada waktu membasuh muka. Shalat, yang mana niatnya berbarengan dengan takbiratul ihram dan lain sebagainya. Dalam hal ini terdapat pengecualian tentang amal ibadah yang niatnya tidak harus bersamaan dengan permulaan amalnya seperti puasa dan zakat.
b)      Niat itu harus bersamaan dengan sempurnanya amal seperti permulaan ibadah itu berupa dzikir. Misalanya shalat, permulaan shalat adalah takbir sehingga niatnya harus bersamaan dengan sempurnanya bacaan takbir “Allahu Akbar” dan tidak cukup bersmaan dengan lafadz Allah atau Akbar saja. Hal yang demikian tentu sulit dilakukan oleh orang awam. Oleh karena itu Imam Haromain dan Imam Ghazali memperbolehkan niat tidak perlu berbarengan seratus persen dengan lafadz dzikir. Bahkan sebagian ulama’ fiqh mengatakan niat itu mendahului atau terlambat sedikit dari takbir itu diperbolehkan.
c)      Jika ibadah itu berupa perbuatan (af’al) maka niatnya cukup bersamaan dengan permulaan ibadah itu. Hanya saja disunnahkan untuk selalu mengingat hingga ibadah itu selesai dikerjakan. Umpamanya wudlu, dimana niatnya cukup dilakukan dipermulaan wudlu, sedang pada waktu membasuh tangan dan seterusnya hanya disunnahkan untuk mengingat bahwa ia sedang mengerjakan wudlu[6].
4.      Maksud Niat.
Adapun maksud utama disyariatkan hadirnya niat untuk menyertai setiap ibadah diantaranya yaitu:
a)      Untuk membedakan antara ibadah dan perbuatan biasa, misalnya antara mandi biasa dan mandi junub. Karena itu amalan ibadah yang tidak serupa dengan amalan biasa tidak disyariatkan niat, seperti iman. Begitu pula ibadah yang berupa meninggalakan perbuatan yang dilarang seperti zina, minum arak, dan sebagainya. Sebagian ulama’ tidak mewajibkan berniat sedangkan sebagian ulama’ yang lain tetap mewajibkannya. Namun mereka sepakat tentang sunnahnya dalam perkara ini.
b)      Untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain. Niatlah yang membedakan antara mandi untuk menghadiri shalat jum’at dan mandi untuk berihram.

E.                            Cabang-cabang Kaidah al-Umûr Bimaqâşidihâ[7]

1)      العبرة فى العقــود للمقاصد والمعاني لا للألفاظ والمباني  (pengertian yang diambil dari sesuatu tujuannya bukan semata-mata kata-kata dan ungkapannya). Sebagai contoh, apabila seseorang berkata: "Saya hibahkan barang ini untukmu selamanya, tapi saya minta uang satu juta rupiah", meskipun katanya adalah hibah, tapi dengan permintaan uang, maka akad tersebut bukan hibah, tetapi merupakan akad jual beli dengan segala akibatnya.

2)      Di kalangan mazhab Hanafi terdapat kaidah لاثواب الابالنية  (tidak ada pahala kecuali dengan niat). Kaidah ini dimasukkan ke dalam al-qawâ'id al-kuliyyah yang pertama sebelum al-umûr bimaqâsidihâ. Sedangkan di kalangan maźhab Maliki, kaidah tersebut menjadi cabang dari kaidah al-umûr bimaqâsidihâ, seperti diungkapkan oleh Qâdi 'Abd. Wahab al-Bagdadi al-Maliki yang dikutip oleh Djazuli. Pendapat maźhab Maliki ini lebih bisa diterima, karena kaidah di atas asalnya لاثواب ولاعقـاب الابالنية  (tidak ada pahala dan tidak ada siksa kecuali karena niatnya).

3)      لواختلف اللســـان والقلب فالمعتبرمافى القلب (apabila berbeda antara apa yang diucapkan dengan apa yang ada di dalam hati (diniatkan), maka yang dianggap benar adalah apa yang ada dalam hati). Sebagai contoh, apabila hati niat wudû, sedang yang diucapkan adalah mendinginkan anggota badan, maka wudûnya tetap sah

4)       لايلزم نية العبادة فى كل جزءانماتلزم فى جملة مايفعله (tidak wajib niat ibâdah dalam setiap bagian, tapi wajib niat dalam keseluruhan yang dikerjakan). Contoh: untuk shalat cukup niat shalat, tidak berniat setiap perubahan rukunnya.

5)      كل مفرضين فلاتجزيهنانية واحدة الا الحج والعمرة (setiap dua kewajiban tidak boleh dengan satu niat, kecuali ibadah haji dan 'umrah). Secara prinsip, setiap dua kewajiban ibâdah atau lebih, masing-masing harus dilakukan dengan niat tersendiri.

6)       كــل ماكان له أصل فلاينتقل عن أصله بمجرد النية  (setiap perbuatan asal atau pokok, maka tidak bisa bepindah dari yang asal karena semata-mata niat). Contoh: seseorang niat shalat zuhur, kemudian setelah satu raka'at, dia berpindah kepada shalat tahiyyat al-masjid, maka batal shalat zuhurnya. Kasus ini berbeda dengan orang yang sejak terbit fajar belum makan dan minum, kemudian tengah hari berniat saum sunnah, maka sah saumnya, karena sejak terbit fajar belum makan apa-apa.

7)      مقاصد اللفظ على نية اللافظ الا فى موضع واحد وهواليمين عند القاضى فانهاعلى نية  القاضى  "Maksud dari lafaz adalah menurut niat orang yang mengucapkannya, kecuali dalam satu tempat, yaitu dalam sumpah di hadapan qâdi. Dalam keadaan demikian maka maksud lafaz adalah menurut niat qâdi". Berdasarkan kaidah ini, maksud kata-kata seperti talak, hibah, naźar, shalat, sedekah, dan seterusnya harus dikembalikan kepada niat orang yang mengucapkan kata tersebut, apa yang dimaksud olehnya, apakah sedekah itu maksudnya zakat, atau sedekah sunnah. Apakah shalat itu maksudnya shalat fardhu atau shalat sunnah.

8)      الأيمان مبنية على الألفاظ والمقاصد (sumpah itu harus berdasarkan kata-kata dan maksud). Khusus untuk sumpah ada kata-kata khusus yang digunakan, yaitu "wallâhi" atau "demi Allah saya bersumpah" dan seterusnya. Dalam hukum Islam, antara niat, cara, dan tujuan harus ada dalam garis lurus, artinya niatnya harus iḣlâş, caranya harus benar dan baik, dan tujuannya harus mulia untuk mencapai keridhaan Allah SWT[8].

9)      النية فى اليمين تخصص اللفظ العام ولا تعمم الخاص (niat dalam sumpah mengkhususkan lafaz 'âm, tidak menjadikan 'âm lafaz yang ḣâs). Contoh: orang bersumpah tidak akan berbicara dengan orang, tetapi yang dimaksud adalah orang tertentu, yaitu Ahmad, maka sumpahnya hanya berlaku pada Ahmad.

10)  مالايشترط التعرض له جملة وتفصيلااذاعينه وأخطأ لم يضر  (Sesuatu amal yang dalam pelaksanaannya tidak disyaratkan untuk dijelaskan/dipastikan niatnya, baik secara garis besar ataupun secara terperinci, kemudian ditentukan dan ternyata salah, maka kesalahan ini tidak membahayakan (sahnya amal). Contoh: orang yang dalam niat shalatnya menegaskan tentang tempatnya shalat, yaitu masjid atau di rumah, harinya shalat rabu atau kamis, imamnya dalam satu shalat jama'ah Umar atau Ahmad, kemudian apa yang ditentukan itu keliru maka shalatnya tetap sah, karena shalat telah terlaksana dengan sempurna, sedangkan kekeliruan hanya pada hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan shalat.

11)   ومايشترط فيه التعرض فالخطأ فيه مبطل (pada suatu amal yang dalam pelaksanaannya di syaratkan kepastian/kejelasan niatnya, maka kesalahan dalam memastikannya akan membatalkan amal).

12)   ومايجب التعرض له جملة ولا يشترط تعيينه تفصيلااذاعينه وأخطأ ضر
"Sesuatu amal yang diatnya harus dipastikan secara garis besar, tidak secara terperinci, kemudian dipastikan secara terperinci dan ternyata salah, maka membahayakan sahnya amal". Contoh shalat berjama'ah dengan niat makmum pada Umar, kemudian ternyata yang menjadi imam adalah Ali, maka tidak sah makmumnya.

Raso, Shihabuddin, Qaidah-qaidah Fiqhiyyah, Jombang : Pesantren Darussalam, 1426

Rohayana, Ade Dedi,   Ilmu Qawa’id Fiqhiyyah,  Jakarta : Gaya Media Pratama, 2008

Usman, Muchlis, Kaidah-kaidah Ushuliyyah dan Fiqhiyyah, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. III

Washil, Nashr Farid Muhammad dan Abdul Aziz Muhammad Azzam, Qawa’id Fiqhiyyah, diterjemahkan oleh Wahyu Setiawan dari “Al-Madkhol fi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah wa Atsaruha fi al-Ahkam Al-Syar’iyyah” ,  Jakarta : Amzah, 2009

http://ujeberkaya.blogspot.com/2010/01/al-umur-bimaqasidiha.html

http://jannatunnaim.blogspot.com/2008/04/kaidah-al-umur-bi-maqasidiha.html



[1] Ade Dedi Rohayana,   Ilmu Qawa’id Fiqhiyyah,  Jakarta : Gaya Media Pratama, 2008, hal. 201
[2]  Shihabuddin Raso, Qaidah-qaidah Fiqhiyyah, Jombang : Pesantren Darussalam, 1426 H, hal. 13
[3] Nashr Farid Muhammad Washil dan Abdul Aziz Muhammad Azzam, Qawa’id Fiqhiyyah, diterjemahkan oleh Wahyu Setiawan dari “Al-Madkhol fi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah wa Atsaruha fi al-Ahkam Al-Syar’iyyah” ,  Jakarta : Amzah, 2009, hal. 6
[4] Moh. Adib Bisri, Tarjamah Al-Fara’idul Bahiyyah, Kudus : Menara Kudus, 1977, hal. 2
[5] Nashr Farid Muhammad Washil dan Abdul Aziz Muhammad Azzam, Qawa’id Fiqhiyyah, Op.Cit, hal. 29
[6] Moh. Adib Bisri, Tarjamah Al-Fara’idul Bahiyyah,Op. Cit, hal,3
[7] Muchlis Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyyah dan Fiqhiyyah, Jakarta: Raja Grafindo persada, cet III, hal 110
[8] http://ujeberkaya.blogspot.com/2010/01/al-umur-bimaqasidiha.html

Copyright @ 2013 Cyber Sancay. Designed by Templateism | MyBloggerLab

About Metro

Follow us on Facebook